29 Agustus 2009

Mak. . .

Leave a Comment
Mak. Begitu sebutan khas yang biasa ku panggil untukmu. Simpel, tapi sangat kompleks. Ya, se-kompleks kasih sayang tulusmu itu kepadaku. Aku tahu, sebutan untukmu itu bukanlah representasi yang sebenarnya dari segala kompleksitas yang ada, tentang dirimu, mak.


Mak. Begitu ingatan yang terlintas di batinku, selalu. Membayangkan sosok dirimu, berarti aku harus menenggelamkan segala sensitivitas perasaan dan aktivitas mental-ku ke dalam peristiwa denganmu, dulu.


Rasa-rasanya aku bisa tersenyum, tapi terperi. Itulah dilema yang selalu kurasakan, mak. Hingga aku menggoreskan pena di atas tulisan ini, nafasku tersengal-sengal, dadaku sesak, menyekat tenggorokan, pandangan-ku mulai memudar, dan aku merasakan sesuatu yang bening mulai membasahi sudut bola mataku. Jernih sekali, mak.


Engkau tahu, kini aku sudah besar. Sudah hampir tiga tahun ini aku tidak pernah pulang lagi ke kampung halaman, rumah kita, mak. Aku sekarang sudah merantau ke kota, melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Menggapai cita-citaku menjadi ‘seseorang’. Ya mak, cita-cita kita. Dulu emak pernah berpesan, agar aku harus melanjutkan pendidikan, supaya bisa menjadi seseorang yang betul-betul ahli di bidang kesehatan. Karena engkau dulu seorang Cek Gu Biologi, maka wajar lah kalau engkau menyarankanku untuk melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan. Dalam perspektif-mu, bidang itu merupakan pilihan yang terbaik bagiku, layaknya dirimu juga yang terbaik sebagai emak-ku. Aku tidak membantah, dan engkau meng-amininya. Demi cita-cita kita, mak.


Mak. Memang sebuah fakta Psycho-Linguistic bahwa semua bahasa di dunia, yang merujuk kepada referensi makna ‘mak’ selalu diawali dengan bunyi ‘m’. begitu juga denganmu, mak. Rasanya baru kemarin bayi kecil semata wayang-mu ini merangkak, menangis meminta perlindungan dan kehangatan kasih sayang seorang emak dari sosok dirimu, seraya bergumam tak jelas, “Ma. . . mam. . . mam. . . ma. . . ma. . . mam. . .”


Begitu mulianya engkau, mak. Bahkan Rasulullah SAW. ketika ditanyakan oleh para sahabat, menyebutkan redaksi kata yang bermakna emak itu lebih banyak daripada redaksi kata yang merujuk kepada ‘ayah’ dengan rasio 3:1.


Ah, mak. Kenangan itu. . . semakin menyesakkan dada dan membuat erosi bola mataku semakin deras mengalir, membasahi setiap rongga jiwa dan hatiku yang kering kerontang, tanpa sentuhan dan belaian hangat kasih sayangmu lagi.


Jangan tanyakan soal Cinta. Aku sudah tidak bisa mendefinisikannya lagi, karena kau tak memapahku, mak. Engkau tahu, aku sekarang seperti mayat hidup, yang tanpa arah, tanpa gairah. Kemana kau bawa pergi jiwaku itu, mak? Bolehkah aku menjemputnya?.


Masih ingatkah kau, ketika aku masih kecil dulu?. Sewaktu hendak berangkat ke sekolah, kau menggorengkan sebutir telur untukku. Lalu apa balasanku?, aku meludahi hasil masakanmu itu. Marahkah kau padaku?, bahkan kau ambil masakan yang ku ludahi itu menjadi sarapan pagi-mu, dan kau memasakkan makanan lain untukku. Ya Allah, mengapa engkau mengirimkanku seorang Bidadari Surga yang terlampau baik untuk se-ukuran diriku, anak kecil yang super nakal ini?.


Seandainya saja aku memiliki mesin waktu, takkan ku tunggu lama lagi. Akan ku hampiri ‘aku’ pada masa lalu itu. Akan ku tampar, ku tendang atau ku bunuh saja dia sekalian. Biarkan saja sejarah berubah gara-gara kejadian itu, aku tidak peduli. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyakiti emak-ku, tak terkecuali ‘aku’. Dasar anak kecil tidak tahu balas budi!.


Tapi, itu prosa ‘seandainya’, bukan sebenarnya, mak. Bahkan masih banyak ‘andai-andai’ lain yang belum sempat ku andaikan untukmu. Sebutlah siapa nanti yang akan memakaikan baju toga untukku ketika wisuda sarjana? Siapa yang mendekap hangat, mengecup kening serta mencium pipi paras cantik calon menantu-mu? Dan siapa juga nanti yang akan menggendong dan meninabobokkan cucu kecil mungil-mu? Siapa mak? Siapa?.


Mak. Meugang sebentar lagi, Bulan Puasa sudah di depan mata. Adakah kau masih mau menggorengkan sebutir telur, untuk kawan nasi sahur-ku? Akankah kau membangunkanku untuk berbuka puasa, ketika aku tertidur pulas di kolong meja belajar-ku? Masihkah kau menyuruhku untuk menggiling tepung, menemanimu mamasak kue untuk Hari Raya nanti?. Ah. . . perasaan itu lagi.


Aku tak tahu, apakah kau masih menungguku untuk pulang kampung atau tidak, mak. Semua hanya jawaban ketidakpastian yang ku dapatkan. Hingga aku sendiri pun gamang. Gamang atas segala pertanyaan dan jawaban yang me’lalu-lintas’ di kepalaku ini.


Mak. Satu redaksi kata dalam Bahasa Aceh, yang merefleksikan keikhlasan. Se-ikhlas hatiku, mak. Aku tidak peduli lagi dengan keadaan, aku tidak peduli lagi dengan kampung halaman, dan aku juga tidak akan pernah peduli lagi dengan segala kenyataan dan keniscayaan. Karena di hatiku cuma ada emak, sekarang dan selamanya. Terlepas dari segala debat epistimologis tentang ‘Ada’ dan ‘Tiada’, yang jelas AKU SANGAT RINDU PADAMU, MAK.


“Uro get, Beuleun get. . .
Asoe Kaya Mak peuget, Mak ëk. . .
Tan ku teumeung Rasa. . .
Nyo ka to Meugang, Beuleun Puasa. . .
Tapi Mak Meutuah, Loen jinoe mantöng. . .
Peusiblah Untoeng, Ino di Kuta Raja. . .
Mak, Uloen Meusyen that keu Gata. . . . .”

0 komentar:

Posting Komentar

.